Dulu semasa SMA, saya paling malas upacara. Saya pikir buang waktu. Lebih baik mengerjakan yang lain, baca buku, atau sekadar duduk-duduk dalam kelas. Saat itu menurut saya, memupuk nasionalisme nggak hanya lewat upacara. Nanjak (atau mendaki gunung) sepertinya jauh lebih konkrit dari pada melihat sederetan anak paskib unjuk gigi tanpa disuruh. Maklumlah di sekolah kami saat itu ekskul paskib merupakan ekskul yang paling dicibir, terlebih oleh anak-anak pecinta alam. Alasannya kurang jelas. Mungkin ya karena itu tadi, anak2 paskib adalah mereka yang suka tampil, tanpa diminta. jadi sok sok gimana gitu… ga jelas kan ha ha … tapi secara ekskul ya, bukan personal. Kalau secara personal sih nggak ada masalah.
Namun kini, ketika usia semakin beranjak naik, dari sudut pandang seorang pengajar pula, saya merasa upacara memang penting dan masih relevan untuk dilaksanakan. Di sanalah kesempatan strategis untuk mengingat kembali darah dan air mata para pahlawan dan pejuang kemerdekaan. Namun masalahnya, kesempatan tersebut, menurut saya pribadi, kurang termanfaatkan. Niatnya ingin menanamkan semangat kebangsaan, namun yang terjadi adalah kegusaran dan kepingsanan sejumlah siswa tiap kali berdiri di tengah lapangan.
Namun demikian, di SMA Dwiwarnalah saya merasa upacara seringkali membuat saya merinding karena bangga melihat pasukan pengibar bendera, siswa/i saya sendiri yang tampil dengan cakapnya. Saya selalu berharap-harap cemas ketika Sang Dwiwarna yang masih terlipat kemudian ditarik oleh Bagas misalnya, dalam sekejap tebuka lebar tanpa terpilin, diiringi dengan teriakan lantang, “bendera siap”. Betapa kagumnya saya ketika melihat anak-anak yang biasanya pendiam dan kurang menonjol di kelas tiba-tiba berteriak mantap memimpin barisan dan memimpin seluruh pasukan. Betapa kagetnya saya ketika anak-anak semacam Bintang dan Aldhino menjadi penting karena memimpin pasukan pengibar bendera.
Tak hanya itu. Di DWlah saya melihat pecinta alam Saladewa (Sahabat Alam Dwiwarna), setidaknya untuk saat ini, berpadu dengan Paskibra saat upacara minggu kemarin dalam pengukuhan Nomor Anggota angkatan pertama (saya lupa namanya, …. Dasa Pratama). Pengukuhan tersebut bahkan dilakukan di tengah-tengah jalannya upacara, sebelum amanat pembina upacara, yang menunjukkan hajatan tersebut begitu penting. Unik memang.
Selamat untuk kesepuluh angkatan pertama Saladewa yang baru saja mendapatkan nomor anggota. Selamat juga untuk angkatan kedua yang baru saja dilantik. Jelajahilah puncak-puncak tertinggi di Jawa. Karena saya percaya, dengan menapaki bumi nusantara, maka kita akan cinta Indonesia.
“Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrasi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung” – Soe Hok Gie.
@ Bagas: namamu saya sebut tuh. Tapi memang ga mudah kok ngibar bendera.
@ semua: nanjak = cinta indonesia = berjuang mengisi kemerdekaan = belajar sungguh-sungguh = dapat nilai bagus = masuk ptn favorit…. indahnya dunia
ahahahaha….sama. dulu juga suka nganggap upacara gak penting. Tapi tambah tua tambah sadar gunanya. :p