Hasil Olimpiade Sains Kabupaten Bogor tahun 2010

11 04 2010

Juara Umum OSK 2010

Alhamdulillah tahun ini juara umum diraih oleh SMA Dwiwarna

Olimpiade Sains Kabupaten/Kota (OSK) Bogor 2010 diselenggarakan di SMPN 3 Cibinong pada 6-7 April 2010. Menurut jurnalbogor.com, sebanyak 580 siswa dari berbagai sekolah di Kabupaten Bogor ambil bagian dalam hajatan sains terbesar di Bogor tersebut. Mata pelajaran yang diperlombakan terdiri dari Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi yang diperlombakan pada hari pertama, serta Ekonomi, Kebumian, Astronomi, dan Komputer pada hari kedua.
Dalam OSK, biasanya tingkat kesulitan soal (khususnya mata pelajaran MIPA) yang dikeluarkan masih menitikberatkan pada penguasaan materi SMA, namun dengan gaya soal jauh lebih detil dan lebih sulit dari pada soal UN maupun SPMB. Ini bertujuan untuk menyaring siswa/i yang memiliki pemahaman konsep yang baik sehingga diharapkan mampu menjawab soal-soal di tingkat provinsi yang membutuhkan analisis lebih jauh.
Berdasarkan hasil corat-coret saya di selembar kertas ketika pengumuman pemenang, berikut adalah hasil dari OSK Bogor 2010. Saya hanya menuliskan nama SMA asal siswa pemenang saja karena tidak cukup waktu bagi saya untuk menulis nama siswanya.

Matematika
1. SMA Smart Excellencia
2. SMA Dwiwarna, atas nama Andika Rahmatillah
3. Ricky M. Haris (saya lupa catat nama SMA-nya)
Harapan 1. SMAIT Al-Kahfi
Harapan 2. SMA Smart Excellencia
Harapan 3. SMAN 1 Leuwiliang

Fisika
1. SMA Smart Excellencia
2. SMAN 1 Cibungbulang
3. SMAN 1 Leuwiliang
Harapan 1. SMAN 1 Jonggol
Harapan 2. SMAN 2 Cibinong
Harapan 3. SMAN 1 Cibinong

Kimia
1. SMAIT Al-Kahfi
2. SMAN 1 Leuwiliang
3. SMAN 1 Ciawi
Harapan 1. SMAN 2 Cibinong
Harapan 2. SMAN 2 Cibinong
Harapan 3. SMAN 1 Ciawi

Revyan Juara 1 Biologi

Revyan, Juara 1 Biologi

Biologi
1. SMA Dwiwarna, atas nama Revyan Magistra Yudhistira
2. SMAN 1 Leuwiliang
3. SMAN 1 Cibinong
Harapan 1. SMAN 2 Cibinong
Harapan 2. SMA Smart Excellencia
Harapan 3. SMAN 2 Cibinong

Ekonomi
1. SMAN 1 Ciawi
2. SMAN 2 Cibinong
3. SMA Dwiwarna, atas nama Farah Amalia Yusmawan
Harapan 1. SMAN 1 Ciawi
Harapan 2. SMAN 1 Leuwiliang
Haparan 3. SMA Smart Excellencia

Kebumian
1. SMAN 1 Cibinong
2. SMAN 1 Jasinga
3. SMAN 1 Ciawi
Harapan 1. …. (catatan saya tak terbaca, maaf ya)
Harapan 2. SMAN 1 Cibinong
Harapan 3. SMA Dwiwarna, atas nama Husyati Amaliah

Astronomi
1. SMAN 2 Cibinong
2. SMA Dwiwarna, atas nama Ratika Benita Nareswari
3. SMAN 1 Cibinong
Harapan 1. SMAN 1 Jasinga
Harapan 2. SMAN 1 Tajur Heulang
Harapan 3. SMA Smart Excellencia

Komputer
1. ….. (lagi-lagi tak terbaca)
2. SMAN 1 Ciawi
3. SMAN 1 Leuwiliang
Harapan 1. SMAN 3 Cibinong
Harapan 2. SMAN 1 Citeureup
Harapan 3. SMA Madania

Dengan demikian, ada empat orang siswa/i SMA Dwiwarna yang akan berlaga mewakili Kabupaten Bogor di tingkat provinsi Jawa Barat. Semoga sukses di kabupaten dapat diulangi kembali di provinsi. Jadi. belajarlah lebih giat.
Demikianlah hasil OSK Bogor tahun 2010. Mohon maaf jika datanya tidak lengkap atau salah, karena saya tidak sempat menyocokkan dengan data panitia. Jika ada pembaca yang lebih tahu tentang seluruh pemenang, silakan berbagi dengan menulis comment.

Advertisements




Upacara VS Nanjak, lebih nasionalis mana?

5 02 2010

Dulu semasa SMA, saya paling malas upacara. Saya pikir buang waktu. Lebih baik mengerjakan yang lain, baca buku, atau sekadar duduk-duduk dalam kelas. Saat itu menurut saya, memupuk nasionalisme nggak hanya lewat upacara. Nanjak (atau mendaki gunung) sepertinya jauh lebih konkrit dari pada melihat sederetan anak paskib unjuk gigi tanpa disuruh. Maklumlah di sekolah kami saat itu ekskul paskib merupakan ekskul yang paling dicibir, terlebih oleh anak-anak pecinta alam. Alasannya kurang jelas. Mungkin ya karena itu tadi, anak2 paskib adalah mereka yang suka tampil, tanpa diminta. jadi sok sok gimana gitu… ga jelas kan ha ha … tapi secara ekskul ya, bukan personal. Kalau secara personal sih nggak ada masalah.

Namun kini, ketika usia semakin beranjak naik, dari sudut pandang seorang pengajar pula, saya merasa upacara memang penting dan masih relevan untuk dilaksanakan. Di sanalah kesempatan strategis untuk mengingat kembali darah dan air mata para pahlawan dan pejuang kemerdekaan. Namun masalahnya, kesempatan tersebut, menurut saya pribadi, kurang termanfaatkan. Niatnya ingin menanamkan semangat kebangsaan, namun yang terjadi adalah kegusaran dan kepingsanan sejumlah siswa tiap kali berdiri di tengah lapangan.

Namun demikian, di SMA Dwiwarnalah saya merasa upacara seringkali membuat saya merinding karena bangga melihat pasukan pengibar bendera, siswa/i saya sendiri yang tampil dengan cakapnya. Saya selalu berharap-harap cemas ketika Sang Dwiwarna yang masih terlipat kemudian ditarik oleh Bagas misalnya, dalam sekejap tebuka lebar tanpa terpilin, diiringi dengan teriakan lantang, “bendera siap”. Betapa kagumnya saya ketika melihat anak-anak yang biasanya pendiam dan kurang menonjol di kelas tiba-tiba berteriak mantap memimpin barisan dan memimpin seluruh pasukan. Betapa kagetnya saya ketika anak-anak semacam Bintang dan Aldhino menjadi penting karena memimpin pasukan pengibar bendera.

Tak hanya itu. Di DWlah saya melihat pecinta alam Saladewa (Sahabat Alam Dwiwarna), setidaknya untuk saat ini, berpadu dengan Paskibra saat upacara minggu kemarin dalam pengukuhan Nomor Anggota angkatan pertama (saya lupa namanya, …. Dasa Pratama). Pengukuhan tersebut bahkan dilakukan di tengah-tengah jalannya upacara, sebelum amanat pembina upacara, yang menunjukkan hajatan tersebut begitu penting. Unik memang.

Selamat untuk kesepuluh angkatan pertama Saladewa yang baru saja mendapatkan nomor anggota. Selamat juga untuk angkatan kedua yang baru saja dilantik. Jelajahilah puncak-puncak tertinggi di Jawa. Karena saya percaya, dengan menapaki bumi nusantara, maka kita akan cinta Indonesia.

“Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrasi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung” – Soe Hok Gie.

@ Bagas: namamu saya sebut tuh. Tapi memang ga mudah kok ngibar bendera.
@ semua: nanjak = cinta indonesia = berjuang mengisi kemerdekaan = belajar sungguh-sungguh = dapat nilai bagus = masuk ptn favorit…. indahnya dunia 🙂





Bogor-Jakarta What’s Up Bro

19 11 2009

Sebulan kemarin saya disibukkan bolak-balik Bogor-Jakarta. Sebenernya sih sekolah saya berlokasi di Parung, namun berhubung Parung masih termasuk dalam wilayah Kabupaten Bogor, saya persingkat sajalah menjadi Bogor-Jakarta. Ini bukan dalam rangka saya mengilhami lagu Bondan Prakoso itu, melainkan saya harus membimbing siswa/i kelas XI SBI mengikuti ujian IGCSE di SMAN 81 Kalimalang, Jakarta Timur, (SMA unggul di Jaktim nih…, di atas SMAN 39 saya dulu).

    Ada tiga mata pelajaran yang mereka ambil dalam ujian semester ini, yaitu Bahasa Inggris, biologi, dan fisika. Kira-kira lima kali saya mengantar mereka. Melelahkan sekali karena waktu yang dihabiskan minimal 4 jam perhari pulang pergi. Untungya ada anggaran untuk makan siang bersama. Jadi saat perjalanan pulang, biasanya kita mampir ke mal-mal yang searah dengan perjalanan pulang untuk makan siang. Lumayan lah melepas post exam depression he he…. Terima kasih untuk Rudi (wong cadel ko namanya punya 3 huruf ‘r’), Yudi, dan rubic-boy (sorry, I forget your name :). Sampai ketemu semester besok ya. Trims telah memandu kami selama di sekolahmu.





Emas Untuk Indonesia

19 07 2009

Akhinyaaa….. Setelah malam minggu bergelut mencari info tentang TOBI (tim olimpiade biologi indonesia) yang tengah berlaga di Tsukuba Jepang, saya menyerah karena sampai jam 2 malam, situs http://www.tobi.or.id ga bisa diakses. fb anak2 tobi belum diupdate. situs resmi panitia http://www.ibo20009.org pun belum mengumumkan hasil perolehan medali. nyerah deh. trus tidur dengan tangan hampa… (ya iyalah, masa tidur sambil megang monitor). sebenernya nggak juga sih, karena saya sempet dapet animasi bayi yang lahir dari youtube untuk pelajaran reproduksi minggu depan.

paginya, saya buka-buka lagi, sekitar jam 7an, akhirnya situs tobi bisa diakses. dah Alhamdulillah. kabar gembira berhembus dari tsukuba. Tim Indonesia yang dimotori oleh Pak Agus Dana berhasil meraih:

1 medali emas atas nama Anugerah Erlaut (SMA Kharisma Bangsa, Tangerang)
1 medali perak atas nama Irfan Haris (SMAN 1 Pringsewu, Lampung)
1 medali perunggu atas nama Elbert Wijaya (SMAK 1 BPK Penabur Jakarta)

selamat… selamat… Pelajaran berharga yang bisa dipetik dari hal ini adalah sebuah keberhasilan memang bisa dicapai hanya dengan kerja keras dan fokus. Jadi buat anak2 DW, kalo mau berprestasi harus lebih tekun ya. Ketekunan ga akan bikin kita cupu kok. Liat aja agi. Biasa aja kan orangnya? Malah banyak fansnya tuh di DW.
Ok. segitu dulu. Sekali lagi, bravo TOBI 2009 karena telah mempersembahkan emas kedua untuk Indonesia.





Badminton is The Sport of My Country

27 06 2009

Saina Nehwal, a rising star from India

Saina Nehwal, a rising star from India

Kamis, 18 Juni kemarin, saya dan dan seorang teman menyaksikan laga Djarum Indonesia Open 2009 Super Series. Kalo cuma ke Istora, lumayan sering sih, terutama kalo lagi ada acara book fair. Tapi kalo untuk nonton bulutangkis secara langsung, kemarin adalah pertama kalinya. Thanx to Fahri for accompanying me. Nonton di rumah emang enak. Gratis, laper tinggal ke dapur, haus tinggal minum, ga mesti ngantri, ga capek ke sananya, dst dst. Tapiiii, nonton langsung secara live emang beda. Lebih cuappe rasanya. Lha wong saya yang teriaknya ga heboh-heboh amat pun tetep cape. Apalagi tangan yang dah lemes nepok-nepokin pemain. Segitupun yang ngantri tiket sampe banjir keringet dan berbau semerbak tuh die. Pokok’e thanx deh ‘ri. (Sayang ‘ri, lo cuma sedikit makan roti yang dah gw beliin, dah bosen kali ya di aspa makan roti melulu).

Hari itu banyak sekali pertandingan yang ditampilkan. Namun, cabang yang saya suka sebenarnya adalah tunggal putri, tunggal putra, dan ganda putra. Seru aja melihat perempuan-perempuan tingkat dunia menepuk bulu angsa. Saya membayangkan kalo saja sayalah lawan mereka, saya dikasih skor berapa ya? Nggak sampe lima point kali, meskipun mereka perempuan. Saat itu saya menyukai Porntip Buranaprasertsuk (dari keribetan dan keanehan namanya semua orang tau kalo dia pasti dari Thailand) yang melawan Wang Yi Han (China) dan Saina Nehwal (India) yang melawan Juliane Schenk (Jerman). Keduanya sama-sama bertipe menyerang. Namun Saina tampaknya jauh lebih tinggi, lebih lincah, lebih galak, dan lebih stabil dari Porntit. Porntit kalah sedangkan Saina menang. Bahkan di luar dugaan, Saina berhasil merebut gelar juara tunggal putri DjIO 2009 mengalahkan Wang Lin (China), sekaligus mengukir rekor putri India pertama yang mendapatkan gelar di nomor ini. Tampaknya, Sainalah bintang DjIO 2009 tahun ini.

Lantas, bagaimana dengan pemain kita? Mendingan nggak usah nanya deh. Menyedihkan, tewas semua selain Taufik, itupun hanya sebagai Runner-up karena dikalahkan Lee Chong Wei (Malaysia) 2 set langsung 😦 Jangan-jangan merupakan hasil terburuk sepanjang sejarah penyelenggaraan Indonesia Open lagi.

Yang saya bingung adalah, kenapa pemain tunggal kita lagi-lagi cuma Taufik, Sony, Simon. Putrinya pun hampir begitu, Maria Kristin, trus Adiyanti Firdasari. Untungnya masih ada Maria Febe yang saya baru ngeh namanya kemarin yang mainnya agak lumayan walaupun akhirnya pun kandas dari Wang Lin (detil seluruh permainan di DjIO 2009 ini bisa dilihat di http://www.tournamentsoftware.com). Masalahnya adalah bagaimana sih rekrutmen pemain selama ini. Padahal olahraga ini sangatlah populer dan penduduk kita 230 juta jiwa. Untungnya banyak pihak telah memikirkan hal tersebut, sebutlah PB Djarum yang akan mengadakan audisi masal pada tahun ini.

Anehnya China, musuh bebuyutan kita di bultang, tidak seperkasa kemarin-kemarin. Mereka hanya menyabet satu gelar dari nomor ganda campuran oleh Zheng Bo dan Ma Jin. Khusus tim putri China, sepeninggal Zhang Ning, mereka belum mencapai kekuatan penuh saat ini. Wang Lin pun hanya bertengger di posisi ke-3. Peringkat satu dunia justru diraih Zhou Mi dan Tine Rasmussen di peringkat ke-2. Saya sempat melihat permainan Zhou Mi melawan Xie Xingfang di final Aviva Singapore Open kemarin, sekelas Xingfang pun dibuat tak berdaya di tangan Zhou Mi yang gaya dan badannya cowok banget ini. Menyeramkan sekali Zhou Mi ini.

Bagaimana dengan Taufik? Faktor usia memang tidak dipungkiri sangat berpengaruh bagi permainannya saat ini. Langkah kakinya kemarin jauh lebih berat dari pada Chong Wei, sehingga ia pun dipaksa bertekuk lutut oleh temannya itu dua set langsung. Sejak menikah, prestasi Taufik memang cenderung menurun. Dan kita semua pun lantas berfikir, kok Taufik sekarang gini ya. Perasaan dulu hebat deh.

Taufik Hidayat, Famous by His Legendary Backhand Smash

Taufik Hidayat, Famous by His Legendary Backhand Smash

Demi mengenang Taufik yang dulu, saya pun tergerak untuk membuka youtube dan mengetik namanya di search engine. Dan memang benar. Banyak sekali file yang bisa dibuka. Semunya berisi cuplikan-cuplikan pertandingan dimana penonton dibuat terkesima oleh kemampuan Taufik yang luar biasa di usia mudanya, masa-masa jayanya, sejak tahun 99 hingga 2006-an. Dunia mengaguminya sebagai maestro backhand smash yang tiada duanya. Selain itu, kecerdikannya di lapangan, pukulan-pukulan tipuan membuat Anda pasti berdecak kagum mengenang kejayaan Taufik kala itu. Itulah mengapa berulang kali host menyebut Taufik sebagai pemain legendaris Indonesia masa kini karena keterampilannya mengolah bulu angsa memang luar biasa. Setidaknya hanya ada tiga orang lagi di tunggal putra dunia saat ini yang permainannya semenarik Taufik dan jadi musuh bebuyutannya, Lin Dan, Lee Chong Wei, dan Peter H. Gade (meskipun untuk Peter, sepertinya Taufik lebih sering menang).

Saya ucapkan tetaplah berjuang atlet-atlet bulu tangkis Indonesia. Raih prestasi terbaik di World Champion Agustus 2009 nanti. Semoga PBSI dapat mengambil pelajaran dari DjIO 2009 kemarin untuk segera berbenah meningkatkan pembinaan olah raga yang kita cintai ini, olah raga yang selalu menghadiahkan emas untuk RI di setiap Olimpiade ini.

Sebelum saya sudahi, gatal rasanya lidan dan jemari ini bila tidak menyampaikan beberapa kritikan. Kali ini ditujukan kepada panitia penyelenggara DjIO 2009 kemarin. Kenapa sih pintu A8 ga dibuka? Gw mo solat jadi ribet, kita harus naik-naik balkon untuk pindah tempat duduk. Gimana kalo dishoot sama wartawan iseng trus terpajang di koran-koran. Kenapa Istora yang selalu jadi lokasi ajang penyelenggaraan even-even serupa, namun kebersihan, kenyamanan, kerapihan, dan keindahan gedungnya seperti tidak diperhatikan sama sekali. Kita bisa lihat sampah berceceran di luar gedung, ubin di selasar yang ketinggalan jaman dan mulai rusak, buang air kecil yang mesti bayar, dsb. Belum lagi antri tiket yang kelamaan, tiket yang habis diserbu calo, dst. Please, be professional. Malu kan dilihat sama negara lain.

Ok gitu dulu. Kok jadi panjang gini, padahal tadi niatnya cuma nulis 2 paragraf.





Seleksi Olimpiade Sains Tingkat Kabupaten Bogor 2009

9 05 2009

osn bersih, osn transparan

osn bersih, osn transparan

Seleksi OSN Tingkat Kabupaten Bogor dilaksanakan di SMAN 2 Cibinong, Bogor pada 15 April 2009 lalu. Hasil yang diperoleh SMA Dwiwarna cukup lumayan, yaitu:

Juara I bidang Komputer – Kevin Pradana
Juara II bidang Ekonomi – Zhya

Sementara lainnya, Fauzan (Osa) kabarnya berada di posisi ke-6 untuk bidang komputer dan Maya juga di posisi ke-6 untuk bidang Matematika.

Sayangnya, ajang ini menjadi tampak kurang netral karena penyelenggaranya adalah SMA yang juga turut menjadi partisipan dalam lomba tersebut. Mungkin pada OSK selanjutnya, penyelenggara sebaiknya adalah sekolah-sekolah seperti SMP sehingga meminimalisir terjadinya hal-hal yang kurang berkenan.

Semoga saja tahun depan prestasi SMA Dwiwarna dapat lebih baik.





yang digugu, yang ditiru

14 03 2009
guru

guru

Hingga kini, saya belum berani mendefinisikan diri saya seorang guru. Saya lebih nyaman disebut sebagai pengajar, instructor, atau pentransfer ilmu (knowledge transferer adalah istilah aneh buatan saya). Ribet amat yah… emangnya beda apa… Buat saya, guru dan pengajar berbeda. Guru adalah pendidik yang tidak hanya pandai dan mampu menyampaikan materi secara sederhana agar mudah ditangkap siswa, namun lebih dari itu, sesuai singkatannya yaitu digugu dan ditiru, guru haruslah memberikan bimbingan moral kepada siswa/i-nya, sekaligus sebagai model dari nilai moral yang ia ajarkan. Kalau dalam tetralogi Laskar Pelangi, karakternya kira-kira seperti Pak Harfan, Bu Muslimah, dan Pak Balia. Read the rest of this entry »